A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan di era modern sekarang ini, karakter
dan ruang lingkup pendidikan telah berubah, pendidikan tidak hanya terbatas
oleh kurikulum formal melainkan diperluas dengan pendidikan di luar sekolah.
Dengan melihat potensi yang ada pada kegiatan rekreasi, maka rekreasi melalui
kegiatan-kegiatannya memberi kemungkinan untuk dijadikan mediasi untuk mencapai
tujuan pendidikan.
Pengembangan ilmu keolahragaan yang didukung
oleh tujuh subdisiplin ilmu, meliputi: olahraga kesehatan, biomekanika
olahraga, psikologi olahraga, sosiologi olahraga, pedagogi olahraga, sejarah
olahraga dan filsafat olahraga, (Haag, 1994: 53). Dari ketujuh subdisiplin ilmu
tersebut satu diantaranya membahas tentang ilmu kesehatan olahraga. Pentingnya
kesehatan mental bagi manusia dan perlunya metode untuk menjaga kesehatan
mental, menjadikan para ahli ilmu olahraga berfikir tentang bagaimana caranya
untuk dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan mental melalui suatu metode
aktivitas olahraga.
Permasalahan mendasar dalam pembelajaran
olahraga rekreasi di sekolah ialah tidak tersedianya prasarana yang
memadai dan kemungkinan pembiayaan yang sangat besar untuk operasional
pembelajaran. Kini keadaan yang sangat dilematis dihadapi oleh komunitas guru
olahraga. Di satu sisi, materi kurikulum fisik dan motorik siswa menggariskan
bahwa olahraga merupakan salah satu komponen pembelajaran yang layak
dilaksanakan. Asumsi dasar bahwa pembelajaran olahraga mendukung pertumbuhan
dan perkembangan siswa melalui aspek afektif, kognitif, dan
psikomotorik.
Dengan terlaksananya pembelajaran olahraga
maka semakin banyak bentuk-bentuk aktivitas jasmani atau olahraga yang samakin
populer di kalangan mayarakat luas. Diantaranya adalah kegiatan olahraga di
alam terbuka atau sering disebut dengan outbound yang saat ini
sedang berkembang pesat. Sehingga dengan demikian pembelajaran outbond
diharapkan dapat meningkatkan sikap disiplin siswa dalam pembelajaran.
Pembelajaran outbound dikembangakan memberi
nafas baik dan dideskripsikan sebagai hal penting dalam pembentukan sikap siswa
dalam kegiatan pembelajaran. Dapat menjadi salah satu sarana yang dapat
dimanfaatkan untuk mengembangkan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental
siswa seutuhnya sehingga terwujud pembelajaran yang bermakna. Artinya, siswa
mampu membangun fisik dan mentalnya dengan belajar sambil bermain karena
melalui permainan outbond akan terbangun suasana yang lepas, bebas,
menyenangkan dan atraktif serta memberi makna dalam belajar siswa.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka
pelaksanaan pembelajaran outbond diharapkan dapat mengatasi
permasalahan-permasalahan dalam penelitian ini. Hal ini didasarkan pada
berbagai literatur yang menyatakan bahwa outbond adalah suatu program
pembelajaran di alam terbuka yang berdasarkan pada prinsip belajar melalui
pengalaman langsung yang disajikan dalam bentuk permainan, simulasi, diskusi
dan petualangan sebagai media penyampaian materi. (Sukardjo dan Salirawati,
2008: 75). Artinya dalam program outbond tersebut siswa secara aktif dilibatkan
dalam seluruh kegiatan yang dilakukan. (Santyasa, 2005: 5). Dengan langsung
terlibat pada aktivitas siswa akan segera mendapat umpan balik tentang dampak
dari kegiatan yang dilakukan, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
pengembangan diri setiap siswa dimasa mendatang. (Marsaja, 2007: 67)
Hal tersebut juga dapat diartikan bahwa proses
belajar dari pengalaman dengan menggunakan seluruh panca indera yang
nampaknya rumit, memiliki kekuatan karena situasinya memaksa siswa memberikan
respon spontan yang melibatkan fisik, emosi, dan kecerdasan sehingga secara
langsung mereka dapat lebih memahami diri sendiri dan orang lain.
Outbond juga dikenal dengan sebutan media outbond
activities. Outbond merupakan salah satu metode pembelajaran yang
dapat digunakan oleh guru di sekolah. Dengan konsep interaksi antar siswa dan
alam melalui kegiatan simulasi di alam terbuka. Hal tersebut diyakini dapat
memberikan suasana yang kondusif untuk membentuk sikap, cara berfikir serta
persepsi yang kreatif dan positif dari setiap siswa guna membentuk jiwa
kepemimpinan, kebersamaan, keterbukaan, toleransi dan kepekaan yang mendalam,
yang pada harapannya akan mampu memberikan semangat, inisiatif, dan pola
pemberdayaan baru dalam suatu sekolah.
Realitas proses pembelajaran MTs SA Masawah,
siswa kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir, proses
pembelajaran di dalam kelas didominasi oleh kegiatan belajar yang hanya
mengarahkan siswa untuk menghafal informasi saja dan siswa dipaksa untuk
mengingat dan menimbun berbagai informasi. Siswa tidak dituntut untuk memahami
dan menghubungkan informasi yang diingatnya itu dengan kehidupan sehari-hari
siswa. Sehingga kondisi ini menyebabkan pembelajaran masih terpusat pada guru
sehingga siswa hanya mendengarkan guru yang akhirnya berdampak pada rendahnya
sikap disiplin siswa dalam proses pembelajaran.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka guru
diharapkan dapat memilih berbagai strategi pembelajaran yang dilakukan oleh
guru sehingga diharapkan dapat menciptakan situasi pembelajaran yang
menyenangkan. Salah satu dampak yang cukup besar dari kegiatan olahraga pada
institusi pendidikan adalah pengembangan sikap sosial. Pendidikan sekarang
bersifat pemenuhan akan fungsi kelembagaan yang harus membantu individu untuk
memperluas sikap dan pemahaman tentang waktu luang dan pengembangan skill.
Dampak lain dari kegiatan rekreasi pada pendidikan adalah memahami tidak hanya
etika bermain tetapi juga memahami makna perselisihan dan tekanan serta
berupaya untuk mencari solusinya.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan
oleh penulis diketahui bahwa sikap disiplin siswa dalam proses pembelajaran di
kelas VII MTS-SA Masawah Kabupaten Ciamis masih rendah hal ini dibuktikan
dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan jasmani masih rendah
sehingga hal ini merupakan permasalahan yang harus dicari jalan keluarnya oleh
guru dengan cara mencari solusi atau alternatif dalam proses pembelajaran yang
selama ini telah dilakukan.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut,
maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan menuangkannya dalam bentuk
skripsi dengan judul: “Pengaruh Pembelajaran Outbond terhadap Sikap Disiplin
dalam Proses Pembelajaran Penjas pada Siswa Kelas VII MTs-SA Masawah
Kabupaten Ciamis".
B. Rumusan Masalah
Untuk kepentingan
penelitian ini, peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Masalah umum
Masalah umum yang dijadikan sebagai permasalahan dalam
penelitian ini adalah :
a. Bagaimana pelaksanaan pembelajaran outbound di
kelas VII MTS SA Masawah Kabupaten Ciamis?
b. Bagaimana sikap disiplin siswa dalam proses
pembelajaran pendidikan jasmani pada siswa kelas VII MTS SA Masawah Kabupaten
Ciamis?
2. Masalah Khusus
Adapun permasalahan khusus dalam penelitian ini adalah bagaimana
pengaruh pembelajaran outbound terhadap perubahan sikap
disiplin siswa dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani di siswa kelas VII
MTS SA Masawah Kabupaten Ciamis?
C. Tujuan Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini sudah barang
tentu ada tujuan yang ingin di capai. Adapun tujuan yang dimaksud adalah
sebagai berikut :
1. Tujuan umum
Tujuan umum dalam penelitian ini adalah :
a. Untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran
outbound di kelas VII MTS SA Masawah Kabupaten Ciamis.
b. Untuk mengetahui sikap disiplin siswa dalam
proses pembelajaran pendidikan jasmani di kelas VII MTS SA Masawah Kabupaten
Ciamis.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh pembelajaran outbound terhadap sikap disiplin siswa dalam
proses pembelajaran pendidikan jasmani di kelas VII MTS SA Masawah Kabupaten
Ciamis.
D. Batasan Masalah
Penelitian ini di
fokuskan pada hal-hal sebagai berikut :
1. Siswa yang menjadi objek penelitian adalah siswa kelas VII
MTS SA Masawah Kabupaten Ciamis tahun ajaran 2010/2011
2. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif, dengan menggunakan teknik korelasional, penelitian ini dapat
mengungkapkan hubungan antar variabel.
3. Sikap disiplin siswa dalam proses pembelajaran dibatasi pada
kemampuan siswa dalam olahraga rekreasi yang berupa nilai belajar mata
pelajaran Penjas.
E. Definisi Operasional
Ada beberapa istilah yang sengaja dimunculkan untuk
didefinisikan arti dan maknanya. Pendefinisian ini dilakukan untuk memperjelas
dan juga mempertegas arti dan makna dari setiap istilah yang kerapkali
digunakan istilah-istilah yang dimaksud, adalah sebagai berikut.
1) Pengaruh adalah akibat yang dapat
menyebabkan berubahnya suatu hasil yang diakibatkan oleh adanya perubahan suatu
hal. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Menurut Singarimbun dan
Efendi (1985: 27-28) “pengaruh dua variabel, yaitu variabel pengaruh (independent
variable) dengan variabel terpengaruh (dependent variable)”. Pengaruh
dalam penelitian ini adalah pembelajaran outbound
terhadap sikap disiplin siswa dalam proses pembelajaran.
2) Pembelajaran outbound adalah suatu
program pembelajaran di alam terbuka yang berdasarkan pada prinsip experiential
learning (belajar melalui pengalaman langsung) yang disajikan dalam
bentuk permainan, simulasi, diskusi dan petualangan sebagai media penyampaian
materi. Artinya dalam pembelajaran outbond tersebut siswa
secara aktif dilibatkan dalam seluruh kegiatan yang dilakukan. Dengan langsung
terlibat pada aktivitas (learning by doing) siswa akan segera mendapat
umpan balik tentang dampak dari kegiatan yang dilakukan, sehingga dapat
dimanfaatkan sebagai bahan pengembangan diri setiap siswa dimasa mendatang. Hal
tersebut juga dapat diartikan bahwa proses belajar dari pengalaman (experiental
learning) dengan menggunakan seluruh panca indera (global learning)
yang nampaknya rumit, memiliki kekuatan karena situasinya “memaksa” siswa
memberikan respon spontan yang melibatkan fisik, emosi, dan kecerdasan sehingga
secara langsung mereka dapat lebih memahami diri sendiri dan orang lain.
(Tedjasaputra, 2001: 10)
3) Guru penjas yaitu guru yang bertugas
membimbing dan melatih siswa dalam pelajaran olahraga. Dalam penelitian ini
guru penjas dijadikan sebagai populasi yang membantu penulis dalam pengambilan
data. (WInatarsaputra, 2008: 18)
4) Sikap adalah “sikap mental yang khusus
untuk menanggapi berbagai pengalaman yang dapat mengubah pengalaman-pengalaman
itu, atau suatu kesiapan untuk melakukan tertentu”. (Qadar,2002: 26). Dalam
penelitian ini sikap siswa yang dimaksud adalah kemampun siswa dalam belajar
yang ditunjukkan dengan hasil belajar siswa.
5) Disiplin siswa dalam proses
pembelajaran menurut Nursisto (1986:14), Disiplin adalah suatu kondisi yang
tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang
menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan
atau ketertiban dalam mengikuti proses pembelajaran.
F. Anggapan Dasar
Dalam penelitian penting artinya suatu
anggapan dasar, terutama untuk menjajaki segala kemungkinan dalam
penelitiannya. Dalam hal ini Surakhmad (1990:107) mengungkapan bahwa anggapan
dasar adalah :”Sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh
penyelidikan”.
Sesuai dengan pengertian tersebut di atas,
maka anggapan dasar dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Pembelajaran outbound adalah bagian dari mata
pelajaran penjaskes yang mempunyai banyak kegiatan. Seperti halnya pada
olahraga pada umumnya dengan olahraga rekreasi maka akan memacu perkembangan
manusia secara menyeluruh misalnya perkembangan-perkembangan jasmani,
koordinasi gerak, kejiwaan dan sosial. (Uus, 2004:8) Tujuan utama olahraga
rekreasi adalah untuk mengajarkan olahraga permainan kepada siswa
sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dan dapat meningkatkan
keterampilan bermain siswa yang akan berdampak positif terhadap perilaku
hidupnya.
2. Sikap adalah kesiapan pada seseorang untuk
bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu” (Qadar, 1985:26).
Sedangkan menurut Warren sikap itu adalah “sikap mental yang khusus
untuk menanggapi berbagai pengalaman yang dapat mengubah pengalaman-pengalaman
itu, atau suatu kesiapan untuk melakukan tertentu”. (Waren dalam Qadar, 1985:26)
Kemudian Droba mengemukakan bahwa “sikap adalah gaya mental manusia untuk
bertindak ke arah atau menentang suatu obyek tertentu” (Natawijaya, 1979:123).
Selanjutnya Allport merumuskan bahwa “sikap itu adalah keadaan siap yang
bersifat mental dan netral, yang terusun melalui pengalaman yang mengarahkan
pengaruh yang mengarah atau dinamik kepada respon yang dilakukan terhadap semua
obyek dan situasi yang berhubungan dengan inividu yang bersangkutan”
(Natawijaya, 1979:123).
Dari pernyataan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sikap
adalah kesediaan mental individu yang mempengaruhinya mewarnai bahkan
menentukan kegiatan individu yang bersangkutan dalam memberikan respon terhadap
obyek atau situasi yang mempunyai arti baginya.
3. Perubahan sikap siswa terhadap olahraga sangat
dipengaruhi kemampuan guru dalam memilih metode yang tepat yang salah satunya
adalah olahraga rekreasi sehingga dapat memacu perkembangan sikap siswa secara
menyeluruh misalnya perkembangan jasmani, koordinasi gerak, kejiwaan dan sosial.
Menurut Haditomo (1989:125) menjelaskan bahwa manfaat olahraga rekreasi bagi
anak-anak adalah dapat memajukan aspek-aspek perkembangan seperti motorik,
kreativitas, kecakapan-kecakapan fungsi sosial dan kognitif dan juga
perkembangan motivasi dan emosional.
Berdasarkan pemahaman tersebut, anggapan dasar
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sikap disiplin siswa yang berbeda terhadap
proses pembelajaran maka memungkinkan guru untuk mencari suatu metode yang
tepat yang dapat meningkatkan keterampilan siswa yang telah dimilikinya.
2. Pembelajaran outbound dapat meningkatkan
perkembangan sikap siswa apabilan dilakukan dengan baik. Pelaksanaan
pembelajaran dikatakan sukses jika anak dapat memahami dan dapat mengandung
arti bagi dirinya.
3. Peranan guru penjas harus dapat menjiwai
esensi dari olahraga rekreasi sehingga diharapkan di dalam mengimplementasi
pengajarannya akan dapat memberikan arah dan pemahaman yang lebih baik pada
siswa tentang olahraga rekreasi.
G. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap hasil penelitian sebelum
penelitian tersebut dilakukan. Menurut Menurut Surakhmad, hipotesis
adalah “perumusan jawaban sementara terhadap sesuatu soal yang dimaksudkan
sebagai tuntutan sementara dalam penyelidikan untuk mencari jawaban yang
sebenarnya”. (1994:39)
Berdasarkan pengertian tersebut, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut : “Terdapat pengaruh pembelajaran outbond
terhadap sikap disiplin dalam proses pembelajaran penjas pada siswa VII MTS SA
Masawah Kabupaten Ciamis.
H. Metode Penelitian
Syarat mutlak dalam suatu penelitian
adalah metode, baik buruknya atau berbobot tidaknya suatu penelitian tergantung
pada metodenya, maka diharapkan dalam penggunaan metode penelitian harus tepat
dan mengarah pada tujuan yang harus dipertanggungjawabkan secara ilmiah sesuai
dengan aturan atau etika yang berlaku. Berdasarkan tujuan-tujuan yang
telah dikemukakan, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode
penelitian deskriptif. Dalam hal ini Surakhmad (1990 : 139) menyatakan
bahwa,
Penelitian deskriptif bertujuan pada pemecahan masalah yang ada
sekarang …, Pelaksanaan metode-metode deskriptif tidak terbatas
hanya sampai pengumpulan dan penyusunan data itu. Karena itulah maka dapat
terjadi sebuah penyelidikan deskriptif membandingkan persamaan dan perbedaan
fenomena tersebut.
Jadi, metode deskriptif yang digunakan dalam
penelitian ini tepat untuk membuat gambaran yang sedang terjadi pada masa
kini. Dengan menggunakan teknik korelasional, penelitian ini dapat
mengungkapkan hubungan antar variable.
I. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini
adalah desain penelitian kuantitatif dengan melakukan pengujian melalui angket
yang dibagikan kepada siswa tentang pembelajaran outbond dan sikap disiplin
siswa dalam proses pembelajaran.
Adapun untuk lebih jelasnya penulis sajikan
desain dalam penelitian ini sebagai berikut:
J. Populasi dan Sampel
Penelitian
1. Populasi
Menurut Sugiyono (2004: 90) sebagai berikut
“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang
mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.
Populasi dalam penelitian ini adalah
siswa-siswi di kelas VII MTS SA Masawah Kabupaten Ciamis dengan
jumlah siswa 93 orang.
2. Sampel
Sampel adalah “Bagian dari populasi yang
dipilih dengan sampling tertentu untuk bisa memenuhi/mewakili populasi”
(Nursalam, 2001:87). Adapun dalam penentuan sampel Sudjana (1988-72) mengatakan
sebagai berikut:
Tidak ada ketentuan yang baku atau rumus yang
pasti, sebab keabsahan sampel terletak pada sifat dan karakteristiknya
mendekati populasi atau tidak, bukan pada besar atau kecilnya jumlah. Minimal
sampel sebanyak 30 subjek. Ini berdasarkan atas perhitungan atau pengujian yang
lazim digunakan dalam statistika. Pendapat lain ialah terhadap populasi kurang
dari 100 biasa diambil 20% - 50%. Patokan tersebut bukan standar baku, melainkan
hanya perkiraan berdasarkan pertimbangan praktis.
Dengan demikian penulis memakai salah satu
macam sampel yaitu teknik random sampling. Adapun pengertian daripada random
sampling menurut Sugiyono ( 2001 : 62 ) adalah sebagai berikut :
Random sampling adalah teknik penentuan sampel dengan mengambil
populasi unuk dijadikan sampel secara acak dengan memberikan kesempatan yang
sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Artinya jika elemen
populasinya ada 100 dan yang akan dijadikan sampel adalah 25, maka setiap
elemen tersebut mempunyai kemungkinan 25/100 untuk bisa dipilih menjadi sampel.
Setelah diketahui jenis sampel yang akan
digunakan sesuai dengan jumlah dan keadaan objek penelitian, maka
penulis menggunakan teknik sensus dengan jumlah responden yang disensus adalah
sebanyak 30 orang siswa yang diambil 10 orang dari tiap kelas.
K. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian
ini adalah angket, menurut Kartono (1990:217), angket adalah: “Penyelidikan
mengenai suatu masalah yang banyak menyangkut kepentingan umum (orang banyak)
dengan jalan mengedarkan formulir daftar pertanyaan, diajukan secara tertulis
kepada sejumlah subjek, untuk mendapatkan jawaban tertulis seperlunya”.
Instrumen ini dilakukan untuk mendapatkan data kuantitatif mengenai studi
deskriptif tentang pembelajaran outbond dalam meningkatkan sikap disiplin
siswa dalam proses pembelajaran.
Angket yang dipergunakan sebagai alat
pengumpul data utama dalam penelitian ini adalah jenis "angket
berstruktur. Yang dimaksud dengan angket berstruktur menurut Surakhmad
(1990:182), ialah: “Angket yang sifatnya tegas konkret dan dengan pertanyaan-pertanyaan
yang terbatas”. Dalam hal ini responden diminta untuk mengisi skala-skala atau
lajur-lajur pertanyaan yang sudah ditentukan jawabannya.
Dalam hal ini alat pengumpul data menggunakan
skala Likert. Alasannya adalah:
1. Skala sikap tipe Likert dapat memberikan
informasi dengan jelas tentang tingkatan persetujuan reponden.
2. Metode dan pengolahan datanya tidak terlalu
rumit, sehingga memudahkan untuk mengambil kesimpulan dari data tersebut.
Dalam pengumpulan data penulis mempergunakan
bentuk pertanyaan tentang pembelajaran outbond yang dilaksanakan oleh
sekolah dalam meningkatkan sikap disiplin siswa kemudian peneliti
memberikan penilaian terhadap angket yang telah di isi oleh siswa.
Dari kedua hasil angket tersebut penulis kemudian
memasukan nilai-nilai tersebut ke dalam tabulasi data sehingga diperoleh hasil
untuk mengetahui pelaksanaan pengaruh dari kedua variabel tersebut.